Malaysia: Dahulu Jadi Murid, Kini `Guru` Indonesia

Separuh abad silam, pendidikan Malaysia memang jauh ketinggalan dari Indonesia. Indonesia banyak mengirim guru ke Negeri Jiran itu. Tak hanya itu saja, Malaysia malahan mengirimkan putra-putri terbaiknya untuk berguru ke Nusantara.

Namun setelah era itu, keadaan terbalik. Pendidikan Malaysia melesat. Sementara pendidikan Indonesia, yang pada dekade 1960-an sampai 1970-an menjadi rujukan mereka, seolah jalan di tempat. Jauh tertingal dari Malaysia.

Coba tengok data QS University Rangking: Asia 2014 yang dirilis. Berdasar data yang dikeluarkan 16 September itu, peringkat universitas-universitas Malaysia jauh berada di atas perguruan tinggi Indonesia.

Dalam daftar itu, Universitas Indonesia menjadi perguruan tinggi di Tanah Air dengan peringkat paling tinggi, berada di posisi 72 Asia.

Peringkat itu jauh di bawah empat universitas asal Malaysia. Universiti Malaya (UM) berada di peringat 32, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) di peringkat 56, Universisi Sains Malaysia di posisi 57, dan Universiti Teknologi Malaysia pada urutan 66 Asia.

Tak hanya itu. Sekiranya dahulu banyak pemuda Malaysia yang belajar di Indonesa, sekarang  https://phenixsalonsuitesmn.com/ telah terbalik. Kini, banyak pemuda Indonesia yang berbondong-bondong ke Malaysia untuk belajar di universitas-universitas di sana.

Menurut Malaysia Education Promotion Centre (MEPC), tahun lalu saja ada 14 ribu mahasiswa asal Indonesia yang belajar di Malaysia. Sementara, hanya ada 6 ribu pelajar Malaysia yang menuntut ilmu di Indonesia.

Menurut data Education for All Global Monitoring Report 2011, Education Development Index (EDI), yang dirilis UNESCO, kualitas pendidikan Indonesia berada pada posisi ke-69. Poisisi itu keok dari peringkat Malaysia yang berada di urutan ke-65 dan jauh ketinggalan dari Brunei yang berada di posisi ke-34.

Seketika, apa yang membikin pendidikan Malaysia bisa maju dengan pesat? Cendekiawan Muslim dari Universiti Teknomogi Malaysia, Prof Wan Mohd Nor Wan Daud mengatakan, kuncinya terletak pada tangan pemimpin.

“Karenanya pemimpin yang berkuasa semestinya peduli pendidikan,” kata ia.

Sekiranya pemimpin peduli terhadap kecerdasan bangsa, maka jatah dana pendidikan akan besar. Akibatnya, negara sanggup membiayai rakyat untuk mencapai pendidikan secara optimal. Entah dengan mengirim rakyat belajar ke luar negeri atau meningkatkan lembaga pendidikan tinggi nasional.

\\\”Motivasi pendidikan semestinya berdasar pada untuk kembali pada bangsa dan negara, itulah yang selalu ditanamkan pada kami,\\\” ungkap Wan.

Indonesia bukan tinggal membisu dengan ketertinggalan itu. Pemerintah telah membikin terobosan dengan menganggarkan 20 persen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk pendidikan. Program pendidikan semestinya belajar smbilan tahun juga telah diaplikasikan.

Namun, berdasarkan Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Abdul Munir Mulkhan, masih ada dua problem dalam dunia pendidikan Indonesia.

Pertama, kata ia, pelajaran di Indonesia masih bersifat mekanik. Buah didik tidak ubahnya seperti robot yang semestinya cocok dengan undang-undang yang ada. Kedua, adanya ketidakseimbangan pendidikan antardaerah di Indonesia. Lebih-lebih untuk perguruan tinggi. (Ism, Dari bermacam-macam sumber)